Kilas Balik NGOCEH #13: Menembus Batas: Sosok Kartini di Dunia STEM


Kak Fira Fatmasiefa adalah alumni penerima beasiswa BIMA 2019 yang akan menempuh pendidikan S3 (PhD) di Boston University jurusan Astronomy. Sejak kecil, ia suka melihat indahnya pemandangan langit saat sedang mudik di Jember. Ternyata, masih banyak hal menarik di luar Bumi yang bisa dipelajari. Saat SMP dan SMA, Kak Fira sering mencari informasi tentang Astronomi lewat internet dan dokumenter. Untungnya, orang tua Kak Fira sangat mendukung cita-citanya.


Di Indonesia sendiri, belum banyak orang yang mengambil jurusan Astronomi karena belum tahu apa yang bisa dilakukan setelah lulus. Masih banyak yang mengira lulusan Astronomi hanya bisa menjadi astronot yang sering dianggap sebagai cita-cita yang sulit digapai. Padahal, ada jalur karir lain juga seperti peneliti.


Awalnya, Kak Fira menempuh pendidikan S1 jurusan Astrophysics di UC Berkeley, California, Amerika Serikat dengan Beasiswa BIMA 2019 dari Yayasan Khouw Kalbe. Jurusan yang selain mempelajari Ilmu Astronomi, juga banyak Matematika dan Fisika. Ia mendapat kesempatan untuk melakukan 3 project riset, dimana 2 di antaranya melekat di memorinya. Salah satunya adalah project bersama Space Sciences Laboratory (SSL) di UC Berkeley tentang medan magnetik bumi dan berhasil menerbitkan artikel di Journal of Geophysical Research: Space Physics sebagai first author, penulis artikel yang namanya ditulis pertama dan akan dirujuk ketika dikutip orang lain. Di Amerika Serikat, sangat jarang bagi mahasiswa S1 untuk menjadi first author lho! 


Selain itu, bersama Lawrence Berkeley National Lab, ia juga pernah juga melakukan penelitian dengan penerima Penghargaan Nobel di bidang Fisika tahun 2011, Prof. Dr. Saul Perlmutter. Wah keren banget! Dalam penelitian tentang perkembangan alam semesta ini, Kak Fira membantu dalam memproses data.


Di masyarakat, perempuan yang menimba ilmu di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik (Engineering, dan Matematika) kerap dipandang sebelah mata. Bidang itu disebut lebih cocok dengan laki-laki karena kuantitas yang lebih banyak. Terkadang, Kak Fira merasa seperti minoritas di kelas Fisika yang memiliki lebih banyak laki-laki dibanding perempuan. Namun, lingkungan Astronomi dan Astrofisika sangat menerima murid perempuan dan para murid perempuan juga suka saling menyemangati serta mengerjakan tugas bersama. Bahkan meskipun lebih banyak dosen laki-laki dibanding perempuan, perempuan juga bisa menempati posisi keren seperti kepala departemen!


Menurut Kak Fira, menjadi perempuan tidak mengurangi kesempatan untuk sukses di bidang STEM karena semua orang punya kesempatan yang sama. Buktinya, sudah banyak perempuan yang sukses di bidang tersebut. 


Meskipun ada tantangan seperti mendapat komentar nyinyir, coding yang tidak bekerja, bingung tentang topik yang diteliti, burn out, semuanya tidak Kak Fira jadikan masalah besar dan dimasukkan ke hati. Malah, Kak Fira lebih termotivasi oleh ketertarikannya di Astronomi. 


Cara lain yang Kak Fira lakukan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi juga unik. Belum menguasai materi? Sering-sering latihan soal. Merasa kewalahan dan burn out? Buat jadwal dan jangan jadikan suatu tanggung jawab sebagai 100% hidup kita. Ingin meringankan beban studi sejenak? Dibawa menari saja! Selain menyukai Astronomi, Kak Fira juga pandai menari dan mengikuti tim dance di UC Berkeley.


Kak Fira berharap, semua perempuan yang tertarik di bidang STEM terus melanjutkan perjalanan mereka meraih mimpi. Semua perempuan, semua orang punya peluang yang sama di bidang STEM. 


Ingin tahu cerita-cerita menarik lain dari pengalaman Kak Fira sebagai mahasiswi Astronomi di Amerika Serikat? Ingin dapat lebih banyak tips? Dengarkan selengkapnya di rekaman NGOCEH #13: Menembus Batas: Sosok Kartini di Dunia STEM: