Ayo Hidup Mindful Supaya Tidak Mind Full


Pada tanggal 4 dan 11 November 2023, para SahabatKK peraih beasiswa Yayasan Khouw Kalbe mengikuti pelatihan di aplikasi Zoom yang bertajuk “Boost Your Leadership Skills” dengan narasumber Kak Irwan Sujarwo, seorang pelatih NLP yang sudah tersertifikasi.


👩: “NLP itu singkatan dari apa MinKK?”


NLP sendiri adalah singkatan dari Neuro Linguistic Programming. Eits meskipun ada kata programming di namanya tapi tidak berhubungan dengan komputer ya! Karena NLP bila diterjemahkan adalah pemrograman bahasa saraf. 


Apabila dikaitkan dengan nama pelatihannya, NLP bisa digunakan untuk memimpin diri sendiri dalam berpikir kritis (untuk memimpin orang lain juga) ketika mengambil tindakan atau keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan setiap perilaku kita dipengaruhi oleh saraf berpikir dalam tubuh, sebagai ‘perangkat lunak’ yang membantu panca indera sebagai ‘perangkat keras’nya. Selain itu, peristiwa-peristiwa yang terjadi di hidup kita juga berpengaruh ke pikiran kita. Kak Irwan memaparkan bahwa di era modern ini, ada 4 tantangan yang dihadapi masyarakat modern; mudah terdistraksi, kesepian (kehidupan sosial kurang berkembang), berpikir negatif yang berdampak pada depresi, dan kehilangan makna serta tujuan hidup, yang mana semua dari tantangan ini berpengaruh ke pikiran.


Kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi orang supaya mereka mengarahkan usaha mereka ke tujuan tertentu. Ada 3 aspek dalam kepemimpinan itu sendiri; harus ada pemimpin, harus ada anggota, dan harus ada tujuan. Maka dari itu, pertama-tama kita harus membangun diri kita sebagai pemimpin yang baik, yang menurut Kak Irwan adalah mereka yang memiliki mental seperti bola bekel. Ketika dihadang masalah (dilempar), mereka bisa bangkit melambung lebih tinggi lagi. Sikap tersebut dinamakan sebagai resilience


👩: “Gimana cara punya resilience sih MinKK?”


Sebelum memiliki resilience, kita harus bisa berpikir kritis dan memiliki kesadaran diri. Berpikir kritis bukan serta merta menolak informasi yang kita terima, namun mencernanya baik-baik dan seksama. Antara stimulus (rangsangan berupa informasi yang masuk ke panca indera dan pikiran) dan respon yang kita keluarkan atas apa yang terjadi/kita terima, ada sebuah jeda yang sebaiknya kita pakai untuk berpikir lebih dulu untuk respon selanjutnya. Apalagi menurut Kak Irwan, di era modern marak terjadi pembohongan seperti berita hoax dan penipuan.


Pikiran kita dipengaruhi oleh apa yang dialami panca indera. Kak Irwan secara singkat menyebutkan kategori-kategori ingatan yang dialami oleh panca indera ke dalam memori visual (yang kita lihat), memori verbal (yang kita ucapkan dan tulis) , dan memori motorik (yang kita lakukan, contoh: koreografi atau cara mengikat tali sepatu). Informasi ini akan masuk pikiran lalu masuk ke meta model, yang akan ‘menyaring’ informasi tersebut. Saringan-saringan tersebut berupa;


Pikiran yang terkena saringan dari meta-model akan berpengaruh pada diri kita, seringkali dalam hal negatif, khususnya kondisi yang dialami. Kondisi kita bisa berubah lebih baik kalau kita mengubah pikiran-pikiran tersebut menjadi lebih jelas dengan berpikir kritis. Kak Irwan memberikan contoh ketika seseorang sedang merasa tidak percaya diri, ada memori visual yang terkandung di pikirannya. Pikiran dan perasaan tersebut dapat berkembang menjadi kata-kata negatif yang diucapkan ke diri sendiri, seperti “Aku takut di-bully.” Kata-kata negatif ini bila diucapkan berulang-ulang akan berdampak negatif ke diri sendiri, maka dari itu kita bisa berpikir kritis atas pikiran dan perasaan itu dengan cara menanyakan ke diri sendiri;


Nah selain menguasai meta model, Kak Irwan membagikan tips berpikir kritis lain yang bisa kita terapkan saat menghadapi masalah, yaitu metode chunking. Chunking sendiri memiliki arti memotong-motong atau membagi, metode ini bisa kita gunakan untuk berpikir lebih lincah lho, SahabatKK. MinKK mau membagikan cerita yang dipakai Kak Irwan sebagai perumpamaan tentang pemakaian metode ini;


Andaikan kamu seorang pramuniaga di toko baju yang sedang melayani pelanggan. Pelanggan tersebut sedang mencari kemeja putih, namun kebetulan stok kemeja putih sedang habis di toko kamu. Dengan menggunakan chunk up (memecah informasi dari khusus ke umum), kamu bertanya alasan mengapa ia butuh kemeja putih. Ternyata, si pelanggan sedang butuh kemeja warna cerah saja. Selanjutnya, kamu menggunakan chunk side (mencari alternatif yang sebanding atau sejenis) untuk menawarkan warna-warna kemeja cerah lainnya yang stoknya ada di toko. Setelah pelanggan setuju, kamu menggunakan chunk down (memecah informasi dari umum ke khusus) dengan menanyakan ukurannya. Dengan demikian, masalah kehabisan warna yang diinginkan pelanggan bisa diatasi!


Lalu Kak Irwan mengajak para partisipan dalam aktivitas simulasi pikiran. Mereka diminta untuk membayangkan sedang berada di taman dan melihat seseorang yang sepertinya dikenal. Namun saat disapa, ternyata salah orang. Kak Irwan menginstruksikan SahabatKK di Zoom untuk memikirkan apa yang tubuh dan perasaan mereka rasakan serta pikirkan seandainya ada di situasi tersebut.


Beliau menutup sesi tanggal 4 November 2023 dari sebuah kutipan oleh Ernst Poppel, seorang peneliti otak;

Every day we make 20.000 decisions. Most of them with lightning speed.”

Setiap hari kita membuat 20.000 keputusan. Sebagian besar diantaranya dibuat dengan kecepatan cahaya.

Berarti, kita seringkali tidak sadar akan keputusan yang dibuat karena dilakukan dengan cepat dan keputusan yang kita buat berjumlah banyak. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?


Di bagian kedua pelatihan yang dilaksanakan tanggal 11 November 2023, para SahabatKK di Zoom mempelajari tentang mindfulness. Di era yang menuntut kita untuk mengerjakan banyak hal dalam waktu singkat seringkali tanpa sadar kita berkegiatan dengan mode autopilot, yang terjadi saat kita melakukan hal-hal tanpa sepenuhnya sadar akan apa yang kita kerjakan. Seperti layaknya robot yang sudah terbiasa bertindak otomatis dengan ‘setiran’ dari mesin sebagai otaknya. Tapi ternyata hal ini tidak sebaik dan sebiasa kedengarannya lho, SahabatKK. Menurut Kak Irwan, karena tidak 100% menyadari apa yang sedang dilakukan, kita kerap kali menyesali tindakan atau keputusan yang dibuat dalam mode autopilot. Ketika kita melakukan sesuatu dalam mode autopilot, kita seringkali tidak meresapi apa yang kita pikirkan (think), apa yang kita lakukan (act), dan apa yang kita alami (feel). 


Setiap respon yang kita berikan atas kejadian di hidup kita akan menghasilkan pilihan untuk keputusan yang akan dibuat selanjutnya, apakah itu adaptif (mau menghadapi dan beradaptasi sesuai kejadian yang ada) atau sebaliknya, maladaptif. Seringkali ketika harus membuat keputusan dengan tergesa-gesa (dalam mode autopilot), manusia kerap mengambil cara maladaptif yang tidak baik untuk jangka waktu panjang. Orang yang dikategorikan sebagai orang pintar adalah mereka yang mudah beradaptasi dengan kondisi, sedangkan apabila kamu merasa belum cukup pintar, berarti kamu sudah siap belajar supaya mudah beradaptasi. Proses pembelajaran terjadi sepanjang kehidupan, jadi mari gunakan waktu kita untuk belajar yang juga tak terbatas pada hal akademik saja, SahabatKK.


Salah satunya adalah belajar menjadi mindful, yakni memiliki kesadaran penuh akan apa yang sedang kita lakukan, pikirkan, dan rasakan. Terkadang, hal-hal di sekitar kita berjalan tidak sesuai dengan keinginan dan bisa saja kita merasakan stres karena itu. Namun, ternyata stres juga bisa memotivasi kita untuk lebih bersungguh-sungguh dalam berkegiatan lho SahabatKK. Kak Irwan menyampaikan bahwa ada 3 tahap stres; hypostress (dimana performa kita mulai naik), eustress (performa terbaik), dan distress (saat performa kita menurun). 


Saat kita diterpa masalah atau mulai merasakan stres, yuk coba ubah menjadi eustress dengan menjadi mindful. Lakukan, rasakan, dan pikirkan sesuatu dengan bersungguh-sungguh. Menjadi mindful memerlukan kita untuk menggunakan panca indera untuk membantu kita meresapi aktivitas. Kak Irwan mengajak SahabatKK di Zoom untuk melakukan simulasi mindfulness sederhana, yakni dengan mencoba mengkonsumsi makanan atau minuman terdekat dari jangkauan secara mindful. Dilihat bentuk makanan/minuman yang ada menggunakan indera penglihatan, dirasakan teksturnya melalui indera peraba, dicium baunya melalui indera penciuman, diresapi rasanya dengan indera pengecap, dan apabila ada sensasi yang bisa terdengar saat mengonsumsi (contoh: suara ‘glek glek’ saat meneguk minuman atau ‘kriuk’ dari makanan) juga bisa dirasakan dengan indera pendengar. Menarik juga, ya!


Mindfulness dapat diterapkan pada aktivitas lain di kehidupan sehari-hari kamu agar kamu lebih fokus dan produktif. Di samping mengembangkan diri dengan menjadi mindful, Kak Irwan juga memberikan tips untuk mengubah kebiasaan buruk yang menghambat pengembangan diri kita:

Contoh: main hp 10-15 menit setelah mematikan alarm di pagi hari.

Dalam contoh di atas, bisa saja kamu menunda-nunda dipicu oleh emosi sedihnya (sadness) karena akan bertemu lagi dengan rutinitas/masalah yang tidak ia suka di hari tersebut.

Mungkin kamu melakukan kebiasaan main hp setelah bangun tidur supaya suasana hati kamu lebih baik, sehingga merasa lebih siap untuk menjalani hari.

Langsung berjalan ke kamar mandi setelah bangun tidur bisa saja sulit dan membuat kaget tubuh bagi beberapa orang. Alternatifnya, kamu bisa meregangkan tubuh di tempat tidur atau berdoa setelah bangun tidur.

Konsistensi adalah kunci dari kebiasaan baru. Memulai kebiasaan baru mungkin terasa berat dan mengintimidasi, namun ketika dilakukan perlahan setiap hari, maka kebiasaan tersebut bisa semakin lebih kuat dan kebiasaan buruk bisa tergantikan.


Menjadi mindful dapat berguna supaya kita tidak mind full (pikiran penuh), yuk arahkan pikiran kita ke apa yang sedang dilakukan supaya bisa mengerjakannya dengan baik dan lebih fokus. Terima kasih Kak Irwan untuk ilmunya dan SahabatKK untuk partisipasinya!